Merasa sedang bersama mereka detik ini, seolah-olah memperjuangkan ghonimah padahal milik sendiri masih berserakan tak dibenahi. saat ini aku masih membayangkan saat pertama kali menumbuhkan niat untuk merenovasi impian yang kadang-kadang seolah menyulap kondisi inersiaku. ternyata lebih dari seonggok tubuh yang kita miliki. Allah yang Maha Pengasih menitipkan akal sehat yang berbanding dengan nafsu kepunyaanmu. kita tinggal pilih saja ikut kemana? mau kemana? atau kita sendiri yang memimpin nafsu dan membawanya jauh... jauh sekali, melampaui cetakan-cetakan otak. nah saat itu seyakin-yakinnya kita saksikan keistimewaan fitrah. tersenyum karena jejak itu telah berkilau, tentu saja tidak mudah! sangat sulit, dan pilihan mundur lebih besar dari keoptimisan untuk melaju perlahan mengikuti ritme percepatan. tapi, kuyakin Insyaallah kan sampai. sampai pada niat awalku mencoret kertas-kertas mimpi itu^^
kertas pertama itu, tergulung karena telah terganti dengan coretan baru.
aku masih ingat, di atas poin impian itu ada kata penggugah yang aku saja hampir lupa. MasyaAllah.begini tulisannya:
" kebenaran itu akan tetap bernama kebenaran. meski tak ada satu orangpun yang menemanimu mengakui kebenarannya. ada Allah yang paling Tahu"
nah... lho...?? hampir saja aku tak percaya dengan tulisan yang hampir luntur itu, sudah berdebu karena selama ini kugulung dalam kardus air mineral, disana banyak hal membuatku merasa dejavu ketika bongkar-bongkar arsip kemaren^^. hmhm... kapan persisnya aku menulis itu ya? ah... yang jelas judul impiannya bernama " target semester satu". ya Robb... ternyata aku masih menyimpan semangat itu. semoga...semoga aku tak memilih mundur. Aamiin.
sampai kardus itu terbongkar. ternyata ada delapan kertas coret-coret istimewa disana. aku seperti baru melihatnya saja. padahal aku sendiri yang menulisnya, menempelnya, kemudian menggantinya dengan target baru. ah... sudah bergulung-gulung ternyata. sempat aku berlama-lama membacanya. aku pikir aku telah jauh mundur ya Robb, mundur dari target-target barokah ini. kemana saja aku selama ini? ngapain aja dengan suguhan waktu yang terabaikan begitu saja. tidur, berdebat, luntang lantung!!! atau berpusing ria pada bagian yang melemahkan ruh yang telah mirip kaca berdebu ini.
"walah... itu tak penting!!! berbenahlah lagi... hapus debu-debu yang menempel pada kertas itu. mungkin saja itu dirimu, ya... kau menemukannya lagi ditengah keresahan jiwa yang tak mestinya dituruti. Bergeraklah! bangun pondasi merdeka yang baru, kita proklamirkan keseriusan. tak cukupkah kertas-kertas bertuliskan tinta prinsip ini yang jadi kode pengingat??? mari... kedepankan syukur... ternyata jalan terjal ini menyimpan berkah luar biasa.
"Tuhan... dosaku menggunung tinggi... namun pengampunan-Mu tak pernah bertepi, bila... selangkah kurapat pada-Mu, seribu langkah Kau rapat padaku"
Astaghfirullah... selagi masih bernafas, perjuangan menghidupi diri dan ruh sendiri musti diupayakan. tak sadarkah? ada sosok lain yang berharap banyak hal padamu, mesti hanya berupa congkelan, colekan atau say hello bertatap ruh. lebih dari itu orang-orang terkasih yang hak hidupnya mesti ditunaikan. simbiosis atas nama pengorbanan yang menuntut hati sehingga mau tak mau mesti jadi sosok kuat karena rupa-rupa mereka adalah perpanjangan wujudmu. seharusnya dan memang akan terpatri di jiwa, bahwa mereka adalah segala yang membuatku memiliki gelar barometer pejuang. ya... mereka yang lebih berharga dari apapun yang kudambakan.
Sedalam syukur pada-Mu ya Robb. yang menguasai hidup dan matiku. Sungguh aku ingin menjadi selayak-layaknya hamba-Mu meski modalku menghadapmu jauh dari kepantasan. Namun ku ingin Engkau menatap tegarnya jiwaku, jangan sudut matakan aku. Kepada siapa lagi aku menggantungkan mauku kecuali pada-Mu.
Jiwa... janganlah mau lalai.
kini Februari sudah sepertiga terlewati, ntah lebih banyak tumpukan kebaikan ataukah berkali lipat lebih banyak tumpukan dosa.
berencanalah sebaik-baik rencana hidup agar maut yang semakin mendekatpun tak berlalu sia-sia. sebab ini masih di dunia, masih di rute perjuangan. semoga usia ini berkah hingga pada ujung desember mendatang kupetik kembali panen yang terbaik, panen hasil dari bersusah payah. AamiinBismillah... bersama kertas impian yang telah kubersihkan dan kutata rapi kembali, di februari ini kuupayakan
"Rumah bekam ABSA"
point target di kertas kelima itu, kini menjadi resolusi hidup di tahun 2014. tak akan terlambat. Insyaallah.
SENANTIASA DIKUATKAN DAN DIBERKAHI. Aamiin ya Robb
dengan semangat yang membuncah
Aripha_Absa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar