Memakai toga hitam milikku di oktober tahun depanmencium takzim tangan kekar papaku dengan segala rasa banggaku padanya
memeluk erat sosok sholehah milikku
berbisik lantang ditelinga adik2ku bahwa mereka akan lebih hebat dariku
ALLAHU RABBI,,, tak banyak, bahkan hanya seremonial buat sebahagian manusia. tapi aku terlalu berambisi melihat senyum terindah papaku seperti cerita2nya ketika aku kecil dulu
" suatu saat nanti jika papa sudah tua, dan ika sudah dewasa. papa hanya punya satu mimpi, memajang semua photo keberhasilan kalian di sudut ruangan depan yang tak seberapa luas ini. cuma itu penawar impian papa. jadilah putri kebanggan papa, putri sholehah buat umak, teladan nyata buat adik2."
berulang-ulang papa selalu membisikkan hal yang sama padaku dulu, tepat setelah dia selesai sholat isya, dia selalu menghapiriku di kamar kecil kami, menggaruk2 kepalaku seolah2 ingin menambah nyenyaknya tidurku, atau hanya sekedar meriksa anti nyamuk hidup atau tidak di kamar itu.
atau malam minggu jika aku tertidur di depan TV, papa pasti mengangkat dan memindahkanku ke kamar sambil minta tolong umak buat pasangin anti nyamuk...
hal ini juga dirasakan adik2ku...jika aku pulang kampung aku menyaksikan hal yang sama dilakukannya pada Iqbal, Eman, Yesi, Yuni dan Hani.
umak yang tak pernah lelah mengajariku untuk lebih baik, yang setia menanyakan kabarku di hampir setiap penghujung hari, yang ceritanya selalu penuh pelajaran, yang mengajariku masak, melipat pakaian yang rapi atau selalu mengingatkanku agar menjemur handuk setelah selesai mandi... intinya dari hal kecil dia mengajariku..
Ya Rahman betapa sayangnya kami pada mereka berdua...
tak ada alasanku meminimkan baktiku buat mereka. Mereka yang selalu ada untukku dan adik2ku, merekalah yang tak pernah terlihat lelah dihadapan kami.
aku ingin bersila bersama mereka di syurga kelak... Aamiin...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar