Jikapun aku berniat menuliskan semuanya, mungkin tanganku akan lelah
melayani keinginan otakku, yang berimajinasi tinggi tak mau mengikuti ritme
ketukan jariku yang lelah menari di atas tombol-tombol hitam ini. Lelah-lelah
bermegah
Aku mengenal awal jalan ini sekitar 6 tahun yang lalu, ntah itu
benar-benar inginku atau Allah sengaja membiarkan aku bergelandangan mengikuti
jalan ini, padahal sebelumnya aku sudah dibisikkan bahwa jalan ini jalan
panjang, berliku, ada jurang, kiri kanannya hutan belantara yang bisa saja ada
makhluk buas yang akan menerkamku tapi kata itu membius lagi “kamu tak sendiri,
ada aku, dia, mereka dan kita yang akan selalu bersama-sama, dan kita ada
dimana-mana”.
Sampai saat inipun Allah masih mengizinkanku untuk menyemat
dalam-dalam kata bertahan itu, ah…yang jelas aku makin cinta pada semua ini.
Tanpa ini semua aku tak akan pernah mengenal senyum ketika menginjak duri, yang
seharusnya aku menjerit atau menangis seadanya memaparkan sakit dan ngilunya
rasa ini. Atau bisa jadi kedip mataku akan berubah begitu saja tanpa ada tanda
dan syarat yang seharusnya kujalani. Benar-benar anugerah, membiaskan sisa-sisa
ragu yang sempat hilang timbul.
Setahun pertama bergelandangan, aku seperti tawanan perang di sebuah
penjara suci di pelosok negeri kebingungan ini. Sebuah kota kecil yang cukup
jauh dari desa kelahiranku, kota yang menuliskan sejarah pertamaku menjadi
seorang gelandangan di jalan ini, gelandangan bernilai tentunya.
Setahun pertama bergelandangan, aku seperti tawanan perang di sebuah
penjara suci di pelosok negeri kebingungan ini. Sebuah kota kecil yang cukup
jauh dari desa kelahiranku, kota yang menuliskan sejarah pertamaku menjadi
seorang gelandangan di jalan ini, gelandangan bernilai tentunya.
Padangsidimpuan nama kotanya disebelah selatan kota ini ada sekolah
peradaban yang dengan segala perjuangan dan pengorbanan aku dizinkan Allah
untuk bergelandangan disana, melanjutkan tholabul ‘ilmi diusia remajaku. Nama
sekolahnya SMA NURUL ‘ILMI, disana aku mengenal banyak hal tentang hidup dan
perjuangan. Wah, masa SMA yang luar biasa, mengharukan, sekaligus menyisakan
pertanyaan dikepalaku tentang kelanjutan
jalan ini, tentang indahnya lingkaran kecil itu, tentang pesona guru-guru
peradaban itu, tentang mulianya arti kumpulan receh-receh itu, tentang gesitnya
menyusun jadwal-jadwal itu, tentang aku, dia, mereka dan kita. Semua lengkap
dan menjadikan aku percaya untuk melanjutkan perjalanan ini, harapannya aku
jadi gelandangan yang tak jatuh bangun setiap adanya kebuntuan.
Tuntas sudah masa remajaku, tiga tahun berlalu. Aku melanjutkan
kuliahku disini bersamamu, bersama mereka, bersama gelandangan-gelandangan
lainnya. Terbitlah kembali kedipan itu, terasa menyulap anggapan bodohku
tentang perjuangan kampus. Ternyata disini lebih menantang! waw!!! Segalanya ada disini. Yang cantik yang sholeha
atau yang cantik tapi tak sholeha silih berganti menyapaku. Seolah menawarkan
pilihan-pilihan ganjil yang setidaknya mengedipkan mataku lebih dari satu kali.
Aku pilih melanjutkan jalan yang telah kutelusuri dulu.
Tentu berbeda suhunya dari masa SMA, sekarang aku menjadi mahasiswa
di pendidikan Fisika. Beberapa hari jadi mahasiswa, aku telah mengenal bagian
tepi garapan ini. Memasuki sebuah gerbang tarbiyah di Ukmi Fakultasku
“Al-MAIDAN FKIP UR”, sebuah peluang yang tak mungkin kusia-siakan. Bertemu
gelandangan-gelandangan yang menurutku luar biasa hebatnya. Nuansanya Asri,
lembut, tapi meyakinkan. Benar-benar bertemu para gelandangan yang mengulur
pikir dan semangat mengikuti ritual sang Umar Bakri. Terasa membahana di relung
hatiku “selamat datang di kampus keguruan, kampus tarbiyah. Segera memantapkan
diri bergelandangan disini”.
Menjadi staf divisi kaderisasi di Al-Maidan menyisakan kenangan yang
sampai sekarang membuatku yakin dengan prinsif estafet, mereka mengajarkanku
arti disiplin, arti kerjasama, arti kesiagaan dan cara meneropong bintang2
penerus sebagai pewaris kerja-kerja rumit ini. Disini aku kembali menemukan
wajah-wajah optimis, genggaman tangan mereka, sentuhan, serta harapan yang
senantiasa mereka bisikkan pada kami gelandangan baru di kampus ini. Setahun di
Al-maidan cukup menjadi jimat ampuh untuk menepis keraguanku tentang kehebohan
di jalan ini. Ada yang lebih menarik menurutku ketika itu, ketika aku di tarik
jadi sang negarawan di tengah badai dan krisis figur negarawan di negeri ini.
Sesuatu yang sangat luar biasa, mengobarkan jiwa pemberontakku. Maka makin
cintalah aku disini, bersama pegelandang lainnya.
Tahun-tahun berikutnya, aku tak lagi gelandangan yang selalu ingin
diperhatikan. Kata “kakak”ku aku yang harus memperhatikan, aku yang harus
tanggap dan peduli dengan semua ini. Tak ada masa buat memikirkan diri sendiri
lagi. Kalau masalah jilbab yang kurang lebar, kaus kaki yang menerawang atau
baju yang tak menutup batas pandang bukan lagi pembahasanku, seharusnya
masa-masa itu bukan lagi jadi kegalauan buatku. Sudah harus naik tingkat
katanya…hmhm… memang benar.
Sekarang sisa hariku di kampus ini lebih sedikit dari waktu yang
telah kuhabiskan. Kemaren baru saja aku mengisi KRS. Kau tahu kawan? Disana
tlah ada tertulis kata-kata “ SKRIPSI, 4 SKS”… ckck… itu berarti bukan masa
belia lagi, mudah-mudahan saja ini semester terakhir aku mengisi KRS. Aamiin…
Ibu dan ayahku sudah tak sabar mendampingi putri sulungnya menggunakan toga.
Itu yang kutangkap dari percakapanku dengan ayah beberapa hari yang lalu.
Yang menjadi catatan indah bagiku di sela-sela aktivitas ini adalah
cinta dan ketahanan. Karena cintalah aku kuat bertahan disini, bertahan menjadi
gelandangan cinta. Cinta itu dari-Nya, DIA yang selalu menjadi tujuan para
gelandangan jalan ini. Cinta-Nyalah yang menyatukan aku dengan ranah adil ini.
Cinta yang terkadang juga sering kuabaikan karena kealfaanku. Tapi tak apa
kawan, aku tetap merasa beruntung, tetap merasa sangat bersyukur terjerat di
jalan ini. Setidaknya setiap ayahku menelpon dari tanah batak sana ada berita
baruku yang selalu jadi bahan perdebatanku dengannya. Karena dari kecil ayahku
sering berdoa agar putri sulungnya kelak jadi anak kuat, kuat membaca dan
menanggapi permasalahan di sekitarku. Itu sebabnya ayah paling suka mengajakku
berdiskusi tentang semua permasalahan negeri ini. Dan ayahku bilang aku makin
bandel dan tetap tak mau kalah. Walau dengan menangis sekalipun, aku akan
selalu mendebatnya, mempertahankan isi otakku dari banyaknya asupan perjalanan
kita di depannya. Hingga waktu itu ayahku menepuk bahuku dan berkata “ yang ini
baru benar-benar anak ayah, kuat dan tak mau mengalah dalam keburukan”. Yach…
bagiku banyak hal yang berarti dalam cerita ini.
Untuk semua para gelandangan yang pernah Allah kenalkan padaku “ aku
mencintai kalian karena-Nya”. kalian yang rela menghabiskan waktu demi
kebaikan, mengesampingkan kemanjaan fisik demi tujuan ini, demi proyek-proyek
ini. Betapa beruntungnya aku berada diantara kalian. Tak ada yang tersia dari
semua ini. Jika pun kita sering salah sudah menjadi sunnatullah sebagai manusia
biasa yang hidup di akhir zaman. Moga Rasul kita setia menunggu persilaan kita
dengannya disana, di tempat para syuhada dan pengembara keadilan agama ini.
Islam yang begitu indah ini.
Semua karena keistiqomahan, kebersamaan, dan bulir-bulir cinta yang
setiap detik dikirimkan-Nya untukku, untukmu, untuk mereka dan untuk kita semua
hingga kita kuat dan tetap ikhlas bergelandangan bersama disini, di jalan
dakwah ini.
Sepenuh cinta:-)
(Sarika Lubis, yang bergelandangan di jalan dakwah)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar