Kamis, 19 April 2012

boru panggoaran (episode 3)

Sehari saja mungkin sangat berbekas, saat ini aku ingin memandang bentuk cinta itu, ingin memanggil sebutan cinta itu, ingin memeluk bentuk cinta itu, tersandar damai seperti 20 tahun lalu menumpang di rumah damainya. rumah dengan satu atap, satu jendela, satu pintu, satu  lantai. berpadu... semauku melukis dan menyemai bahagia di sana...yaph... rahim damai itu...milikmu ibu...

merindumu... sempurna, tertaut dalam serat-serat haru yang tak mampu lagi ku perluas
tak mengerti apa yang akan tersimpul... menderu, bergabung dalam sebentuk amarah yang mungkin kau pun rasakan. namun sekali lagi, kau begitu pandai menyimpan hal seperti ini jika ini pernah terjadi padamu...
dan  sekarang kucoba, aku mampu ibu, mampu dengan melampirkan notasi arahan seperti yang kau bisikkan dulu.
ibu... aku mampu... tapi tak merasakan sederhananya anggukan banggamu saat ini... aku ingin itu ibu...
dan kembali suara cintamu terbias begitu saja, menyemat dan ternyata mampu merangkul banggamu di mimbar khayalku. yach... aku merasakan banggamu ibu...

merindumu... melemparkan keras bathinku untuk beranjak dari tol yang tak bertujuan ini, menarik segenap kusutnya wajah jenuhku tuk membuka jendela hari ini dengan penuh cinta.. sesayarat makna yang terbisik olehmu beberapa bulan yang lalu... ibu... kau tahu, aku ridu

merindumu... memaksaku tuk mengusap kaca berdebu itu, selembut pintamu, selihai jemarimu ketika menyuguhkan sajian kasih untukku, dengan itu aku tak terpaksa lagi ibu,
aku rindu... setinggi rindu pada nyanyian kecil kita saat itu, di rumah kecil kita, rumah yang setiap sudutnya kutemukan ombak-ombak damai disana, kurasakan udara damai, kutemui wajah-wajah damai, semua damai... ibu aku rindu.

merindumu...merangkai serpihan kecewaku semalam, mengubah gundahku kemarin, melerai emosiku seminggu yang lalu, dan bahkan memaksaku membiarkan ubahan waktu kembali ke episode lama... seperti relatifnya perhitungan waktu mereka. begitu saja bu...
dan kuhitung deretan angka penunjuk waktu ini, kusabarkan hati yang hampir tak lagi sejalan dengan inginku... meyakinkan diri.. sebentar lagi kan temui wajah damaimu di istana damai kita.... ibu sayang.... aku mencintaimu sesempurna cintamu, :)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar